Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) menyelenggarakan Peluncuran dan Bincang Buku 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik Narasi, dan Kemanusiaan. Acara berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB di Ruang Auditorium Lantai 1 Gedung Widya Graha BRIN, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini dihadiri sekitar 150 undangan dari kalangan akademisi, peneliti, penerbit, keluarga Pramoedya Ananta Toer, serta pemerhati sastra Indonesia. Selain luring, acara juga diikuti oleh 115 peserta daring melalui Zoom serta disiarkan langsung melalui kanal YouTube HISKI dan Tribun Network. Peluncuran buku setebal 1.168 halaman ini menjadi momentum penting dalam peringatan 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer sekaligus menegaskan komitmen HISKI dalam merawat ingatan kolektif dan memperkuat kajian sastra Indonesia.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa bersama. Sambutan pertama disampaikan Kepala Pusat Riset Manuskrip dan Tradisi Lisan BRIN, Dr. Sastri Sunarti, M.Hum. Ia menyebut Gedung Widya Graha BRIN sebagai ruang bersejarah bagi perkembangan riset sosial-humaniora di Indonesia.

Dr. Sastri menjelaskan bahwa buku 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer merupakan buku kedua terbitan HISKI setelah Humaniora Digital. Ia juga mengungkap rencana penerbitan buku Sastra Wayang dan 100 Tahun Asrul Sani. Pada kesempatan itu, ia turut menyampaikan doa bagi penyair Sutardji Calzoum Bachri yang tengah menjalani perawatan.

Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., dalam sambutannya melaporkan bahwa buku ini berasal dari 105 naskah yang masuk dan dikurasi menjadi 40 tulisan terpilih. Menurutnya, proses seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan kualitas, distribusi bidang, dan fokus kajian. Prof. Novi menjelaskan bahwa buku ini terbagi ke dalam empat bab tematik, yakni: Sejarah, Politik, dan Ideologi; Artikulasi Tekstual, Lokalitas, dan Globalitas; Romantisisme, Nasionalisme, Kolonialisme, dan Pascakolonialisme; serta Feminitas, Maskulinitas, dan Kemanusiaan.

Ia menambahkan bahwa peluncuran buku ini juga menjadi ajang reuni akademik bagi para peneliti HISKI sekaligus memperkuat kolaborasi berkelanjutan antara HISKI dan BRIN dalam mendiseminasikan hasil riset sastra kepada publik.

Sambutan penutup disampaikan Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara. Ia menegaskan bahwa peringatan 100 tahun Pramoedya merupakan momen penting untuk mengeksplorasi secara komprehensif kehidupan dan pemikirannya. Menurut Yogaswara, keberagaman tafsir atas karya Pramoedya justru memperkaya narasi dan memperkuat pemahaman tentang sisi-sisi kemanusiaan yang menjadi inti pemikiran sastrawan tersebut. Ia menekankan bahwa BRIN berkomitmen memproduksi pengetahuan yang bernilai akademis sekaligus memiliki dampak sosial.

Keluarga Pramoedya Ananta Toer yang diwakili putrinya, Astuti Ananta Toer, menyampaikan rasa haru dan apresiasi atas terbitnya buku tersebut. Ia menilai buku ini sebagai wujud kedekatan emosional dan intelektual para peneliti dengan sosok Pramoedya.

Astuti juga menyinggung warisan intelektual Pramoedya, termasuk manuskrip “PR 16 Meter”, sebagai bukti dedikasi dan produktivitas sastrawan besar tersebut. Salah satu cucu Pramoedya, Angga, turut berbagi kesaksian tentang kedisiplinan kakeknya dalam kehidupan sehari-hari serta kebiasaan bercerita kepada cucu-cucunya, termasuk pengalaman hidup di penjara Bukit Duri dan Pulau Buru.

Sesi bincang buku dipandu oleh Dr. Abdullah Sumrahadi, S.IP., M.Sc. dengan narasumber Prof. Dr. Faruk, S.U. (UGM) dan Erlis Nur Mujiningsih, M.Hum. (BRIN). Erlis membahas kecenderungan kajian dalam buku tersebut, termasuk analisis terhadap karya-karya utama Pramoedya seperti Gadis Pantai, Arus Balik, dan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Ia juga menyoroti area kajian yang masih terbuka, seperti linguistik, digital humanities, dan penerjemahan karya Pramoedya ke berbagai bahasa. Sementara itu, Prof. Faruk menyoroti karakteristik realisme Pramoedya yang “tegel” dan penuh konflik. Menurutnya, kekuatan karya Pramoedya terletak pada keterlibatan subjektif pengarang yang menghadirkan kritik sosial dan visi perubahan masyarakat.

Ia mengutip ungkapan Pramoedya, “Hidup bukan pasar malam,” sebagai representasi pandangan tentang martabat dan kemandirian manusia yang menjadi fondasi universal karya-karyanya. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan kritis dari peserta, mencerminkan tingginya minat dan relevansi kajian terhadap Pramoedya lintas disiplin ilmu.

Peluncuran buku 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik Narasi, dan Kemanusiaan menandai langkah strategis HISKI dalam memperkuat ekosistem literasi nasional dan memperkokoh posisi kajian sastra Indonesia di ranah akademik global.