Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) kembali menunjukkan komitmennya untuk menjaga dan menghidupkan kembali khazanah sastra klasik nusantara. Pada Kamis, 4 September 2025, kedua lembaga tersebut menggelar Lokakarya Penilaian Tim Pembaca Pakar Hasil Saduran Karya Sastra Klasik, yang berlangsung secara daring melibatkan 20 Akademisi Tim Pakar. Lokakarya ini merupakan kelanjutan dari tiga agenda penting sebelumnya, yang meliputi tahapan kemajuan penulisan, penyamaan persepsi antarilustrator dan desainer, hingga pembekalan tim pakar pembaca.
Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., Ketua Umum HISKI, dalam sambutannya menekankan bahwa penyaduran harus dilakukan dengan kesadaran penuh akan jenjang usia pembaca. Ia menyebut forum ini sebagai momen penting untuk mendengarkan respons dari para pakar, sebagai “mata pembaca kritis” yang mampu menguji ketepatan isi, bahasa, serta relevansi ilustrasi dan desain terhadap dunia anak.
Dalam sambutannya Suharyanto, S.Sos., M.Hum., Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpusnas RI. Mewakili Kepala Perpusnas, Prof. E. Aminudin Aziz, ia menggarisbawahi pentingnya menghadirkan cerita berkualitas untuk anak-anak sebagai bagian dari upaya besar meningkatkan literasi budaya bangsa.
Ia juga menyambungkan kegiatan ini dengan momentum Hari Kunjung Perpustakaan pada bulan September, menjadikannya bagian dari kampanye nasional membumikan kembali pentingnya membaca dan mengenal jati diri melalui karya sastra.
Dikuatkan oleh kehadiran 20 pakar dari berbagai kampus ternama, termasuk Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D., Prof. Manneke Budiman, Ph.D., Prof. Dr. Kundharu Saddhono, dan Prof. Dr. Muhammad Rohmadi. Para pakar ini memberikan masukan tidak hanya pada aspek isi dan bahasa, tetapi juga pada pendekatan penyampaian nilai-nilai luhur budaya dalam format yang komunikatif dan visual.
Penyaduran bukan dimaknai sebagai penyederhanaan, melainkan penyesuaian cerdas yang tetap menjaga nilai-nilai estetika dan etika dari teks asli.
Dengan melibatkan ilustrator dan desainer grafis, sastra tidak lagi hadir sebagai teks semata, tetapi menjadi pengalaman visual yang menyenangkan membantu pembaca anak menavigasi cerita dengan mudah dan penuh imajinasi.