Berita Baru, Jakarta — Setelah meresmikan 15 ketua komisariat baru, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) kembali melanjutkan rangkaian kegiatan dengan menyelenggarakan Sekolah Sastra. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 16 Agustus 2025 ini digelar secara daring melalui Zoom Meeting serta disiarkan langsung lewat kanal YouTube resmi HISKI Pusat dan Tribun Network.

Sama seperti sesi sebelumnya, forum ini menghadirkan Dr. Pujiharto, M.Hum. (Universitas Gadjah Mada & Wasekjen 1 HISKI Pusat) sebagai narasumber, dengan tema utama Kajian Sastra dalam Perspektif Possible World. Acara dipandu oleh Dr. Endah Imawati, M.Pd. dari Tribun Network yang bertugas sebagai moderator.

Sebelum masuk ke materi, forum dibuka oleh Prof. Dr. I Made Suyasa, M.Hum., selaku perwakilan HISKI Pusat Bidang Publikasi, Dokumentasi, dan Informasi. Dalam sambutannya, Suyasa memberikan ucapan selamat kepada para ketua komisariat yang baru dilantik, sekaligus menekankan arti penting pelantikan ini sebagai penguatan energi organisasi.

“Pelantikan bukan sekadar acara seremonial, melainkan langkah strategis membangun komitmen bersama untuk mengembangkan kesusastraan Indonesia,” ujarnya.

Suyasa juga mengajak seluruh anggota HISKI untuk tetap kreatif dan produktif dalam dunia penelitian maupun pengajaran sastra. “Kita harus mampu menjaga relevansi kajian sastra dengan perkembangan zaman, salah satunya dengan memanfaatkan perspektif baru seperti possible world,” tegasnya. Ia menambahkan, program Sekolah Sastra bukan hanya forum transfer ilmu, melainkan juga wahana memperkuat jejaring akademik lintas wilayah.

Memasuki sesi inti, Dr. Pujiharto menyampaikan bahwa teori possible world kini makin banyak mendapat perhatian di tingkat global. Ia mencontohkan bahwa pencarian kata kunci storyworld dalam basis data Scopus saja menghasilkan 67 artikel.

“Artinya, semakin banyak persoalan sastra yang bisa dijelaskan melalui kerangka ini,” jelasnya.

Pujiharto menyoroti penelitian Daniel Candel Bormann melalui artikel Moving Possible World Theory from Logic to Value, yang menganalisis tiga karya anak—Where the Wild Things Are, The Gruffalo, dan komik The Baba Yaga—dengan menggunakan empat modalitas semantik: aletik, deontik, epistemologis, dan aksiologis. Contoh lain datang dari Amit Marcus yang mengkaji novel Let Me Go karya Kazuo Ishiguro untuk menunjukkan keterhubungan antara etika naratif dan teori possible world.

Menurut Pujiharto, teori ini bahkan bisa dijadikan dasar untuk menilai genre sastra. Ia juga menyinggung riset Samantha Yap Choy Wan dan Mansour Amini atas The Little Prince yang menggambarkan cara kerja infrastruktur dunia sekunder dalam storyworld.

“Dengan pendekatan serupa, saya sendiri meneliti novel Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma, dengan fokus pada bagaimana imajinasi menghubungkan dunia fiksi dan realitas,” ungkapnya. Ia mengacu pada gagasan Marie-Laure Ryan yang membedakan elemen statis—seperti hukum alam, aturan sosial, karakter, dan ruang—dengan elemen dinamis berupa peristiwa, pengalaman mental, hingga perubahan hubungan tokoh.

Lebih jauh, Pujiharto menjelaskan bahwa kerangka ini juga bisa digunakan untuk menelaah fenomena transfiksi dan transmedia. Ia mencontohkan lakon Petruk Dadi Ratu yang bertransformasi dalam naskah drama Bel Geduwel Beh karya Danarto, hingga diwujudkan dalam karya seni rupa oleh Subandi Giyanto dan Joko Pekik.

Melalui Sekolah Sastra ini, HISKI berharap peserta dapat memperluas cara pandang mereka: sastra tidak berhenti pada teks, melainkan membuka ruang bagi “dunia-dunia lain” yang lahir dari imajinasi pengarang.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Tercatat 133 peserta mengikuti forum ini lewat Zoom, sementara siaran di YouTube HISKI dan Tribun Network telah ditonton sebanyak 170 kali secara kumulatif.

Sebagai catatan, Sekolah Sastra merupakan program rutin HISKI Pusat yang diselenggarakan dua bulan sekali, bergantian dengan agenda Tukar Tutur Sastra. Kedua kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja HISKI Pusat di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas anggota HISKI dari Sabang hingga Merauke, serta memperkuat jejaring peneliti dan ilmuwan sastra di Indonesia.