Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) kembali melanjutkan agenda penting dalam proyek penyaduran karya sastra klasik. Pada Sabtu, 2 Agustus 2025, kedua lembaga mengadakan pertemuan koordinasi bersama tim pembaca pakar secara daring melalui Zoom, berlangsung dari pukul 10.00 hingga 11.30 WIB.
Pertemuan ini diawali dengan pembukaan oleh pewara Sudartomo Macaryus, lalu dilanjutkan sambutan oleh Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. Dalam sambutannya, Novi menekankan bahwa kegiatan ini merupakan momen krusial untuk menyelaraskan harapan semua pihak dalam mengenalkan kembali karya-karya sastra klasik kepada generasi muda, khususnya anak-anak dan remaja, melalui versi yang lebih sesuai dengan tingkat usia mereka.
Ia menekankan pentingnya forum ini sebagai ajang menyatukan perspektif antara para penyadur dan pembaca pakar, untuk memastikan bahwa hasil akhir benar-benar menjadi bacaan berkualitas bagi anak-anak. Dukungan para pembaca pakar menjadi langkah penting dalam sistem kontrol mutu, memberikan evaluasi, masukan, dan saran demi penyempurnaan saduran yang sedang dalam proses finalisasi.
Dalam sesi berikutnya, Suharyanto, S.Sos., M.Hum., selaku Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, menyampaikan dukungannya atas kolaborasi ini. Ia berharap seluruh proses dapat rampung tepat waktu, terutama menjelang uji keterbacaan yang dijadwalkan pada bulan September. Suharyanto menegaskan bahwa proyek saduran ini adalah bagian dari prioritas nasional dalam menyediakan bahan bacaan bermutu, serta sebagai bentuk nyata alih wahana naskah klasik menuju bentuk yang lebih mudah diakses.
Ke depan, menurutnya, hasil saduran juga akan dijadikan bahan dasar untuk alih wahana ke dalam bentuk film, sebagai bagian dari perluasan akses terhadap warisan sastra Nusantara. Untuk itu, ia berharap kerja sama strategis dengan HISKI dapat terus dilanjutkan.
Sesi inti koordinasi diisi oleh Dr. M. Yoesoef, M.Hum., yang menjelaskan kerangka kerja evaluasi hasil saduran. Ia memaparkan bahwa program ini bertujuan menyederhanakan dan memperkenalkan sastra klasik secara bertahap kepada pembaca usia PAUD, SD, hingga SMP. Para pembaca pakar bertugas menilai kualitas hasil saduran dari segi legalitas, keterkaitan dengan sumber aslinya, edukasi, dan kesesuaian gaya bahasa terhadap jenjang pembaca.
Untuk mempermudah proses penilaian, telah disiapkan lembar evaluasi kualitatif yang bisa diisi oleh para pakar sesuai pengamatan mereka. Dalam sesi tanya jawab, peserta menyampaikan berbagai pertanyaan teknis terkait proses evaluasi dan kebutuhan akan instrumen serta petunjuk yang lebih detail.
Salah satu tanggapan datang dari Prof. Riris T. Sarumpaet yang menggarisbawahi tantangan jarak budaya dan zaman antara karya sumber dan pembaca masa kini. Namun ia juga melihat proyek ini sebagai peluang besar untuk menghasilkan bacaan yang penting dan relevan.
Tanggapan serupa juga disampaikan oleh Prof. Manneke Budiman, Sunu Wasono, Desy Rufaidah, dan Silva Tenrisara Pertiwi Isma, yang sama-sama menekankan pentingnya kejelasan dalam pedoman penyaduran dan perangkat penilaiannya. Semua masukan yang terkumpul menjadi landasan penting untuk memastikan karya-karya saduran nantinya mampu menghadirkan pengalaman membaca yang menarik sekaligus membangun nilai-nilai literasi budaya pada generasi penerus. (RK)