Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) kembali menyelenggarakan kegiatan Sekolah Sastra dengan mengusung tema “Sastra dalam Penelitian Pembelajaran Sastra”. Kegiatan ini menjadi agenda penutup Sekolah Sastra HISKI sepanjang tahun 2025 dan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting. 

ekolah Sastra edisi pamungkas ini menghadirkan Prof. Dr. Nugraheni Eko Wardani, M.Hum., Dewan Pakar HISKI Komisariat Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, sebagai narasumber utama. Acara dipandu oleh Dr. Endah Imawati, M.Pd., yang bertindak sebagai moderator. Dalam pengantarnya, Dr. Endah Imawati menyampaikan bahwa pertemuan ini memiliki makna strategis karena menjadi penutup rangkaian Sekolah Sastra HISKI tahun 2025. Ia menegaskan bahwa forum Sekolah Sastra merupakan ruang akademik yang penting untuk mempertemukan gagasan-gagasan mutakhir, khususnya dalam pengembangan penelitian dan pembelajaran sastra di Indonesia.

Acara dibuka dengan sambutan dari Dr. Yeni Artanti, M.Hum., selaku Sekretaris Jenderal HISKI. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan ini. “Tema Sastra dalam Penelitian Pembelajaran Sastra sangat relevan, terutama di tengah momentum pengajuan proposal penelitian yang sedang berlangsung. Sekolah Sastra menjadi ruang penting untuk menimba ilmu, memperkuat riset, dan memperdalam refleksi akademik di bidang sastra,” ujarnya. Yeni juga menegaskan bahwa Sekolah Sastra tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang diskursus yang bermakna untuk memperkaya praktik akademik para peneliti, pendidik, dan pemerhati sastra. Ia berharap kegiatan ini memberikan manfaat akademik dan praktis bagi seluruh peserta.

Memasuki sesi inti, Prof. Dr. Nugraheni Eko Wardani, M.Hum. memaparkan materi berjudul “Karya Sastra dalam Penelitian Pembelajaran Sastra”. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan secara komprehensif tentang penelitian pengembangan atau research and development (R&D), yakni metode penelitian yang bertujuan mengembangkan atau menyempurnakan suatu produk agar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Menurut Prof. Nugraheni, produk hasil penelitian pengembangan dapat berupa perangkat keras, seperti buku teks, buku ajar, dan pedoman pembelajaran, maupun perangkat lunak, seperti model pembelajaran, media pembelajaran, dan instrumen evaluasi. Ia juga menguraikan sejumlah pertimbangan penting dalam menghasilkan produk penelitian, antara lain urgensi produk, nilai keilmuan, kompetensi peneliti, serta kebermanfaatan dan inovasi produk yang dikembangkan.

Lebih lanjut, Prof. Nugraheni menjelaskan tahapan penelitian dan pengembangan yang meliputi pemilihan produk, kajian teori, penentuan spesifikasi produk, pengembangan prototipe, uji kelayakan, uji keefektifan, hingga diseminasi produk. Tahapan tersebut mencakup proses analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Dalam konteks riset nasional, Prof. Nugraheni juga menyoroti sejumlah bidang riset prioritas, seperti digitalisasi, ekonomi kreatif, kecerdasan buatan, lingkungan hidup, dan pengelolaan sumber daya. Dari berbagai bidang tersebut, ia menekankan bahwa digitalisasi menjadi salah satu sektor yang paling dekat dan potensial untuk pengembangan pembelajaran sastra.

Ia menambahkan bahwa produk penelitian pembelajaran sastra dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk digital, seperti e-book, komik digital, media animasi, flipbook, video pembelajaran, virtual reality, augmented reality, virtual tour, hingga media digital multimodal. Kegiatan Sekolah Sastra ini diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan komunitas akademik di seluruh Indonesia. Antusiasme peserta menunjukkan besarnya minat dan kebutuhan akan pengayaan keilmuan di bidang penelitian dan pembelajaran sastra.

Sebagai informasi, Sekolah Sastra merupakan salah satu program unggulan HISKI Pusat yang diselenggarakan secara berkala dan bergantian dengan program Tukar Tutur Sastra. Kedua program ini bertujuan meningkatkan kompetensi, wawasan, serta jejaring akademik para anggota HISKI dan pemerhati sastra dari Aceh hingga Papua.

Melalui Sekolah Sastra edisi penutup tahun 2025 ini, HISKI di bawah kepemimpinan Ketua Umum Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem keilmuan sastra Indonesia, baik dari sisi penelitian maupun praktik pembelajaran.