Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bersama Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sukses menyelenggarakan Peluncuran dan Bincang Buku Humaniora Digital pada Senin, 10 November 2025. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini bertempat di Ruang Sasadu, Badan Bahasa, Jalan Daksinapati Barat 4, Rawamangun, Jakarta Timur. Selain dihadiri langsung oleh para peserta, acara ini juga disiarkan secara daring.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa pembuka oleh panitia Badan Bahasa. Suasana khidmat berubah menjadi penuh semangat ketika Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., selaku Ketua Umum HISKI Pusat, memberikan sambutan. Ia menekankan pentingnya peran HISKI dalam memperkuat produksi karya ilmiah, memperluas literasi nasional, dan menghubungkan dunia humaniora dengan perkembangan teknologi digital.
“Buku Humaniora Digital ini merupakan hasil kerja keras selama tiga tahun. Dengan tebal 982 halaman, buku ini menjadi karya pertama yang diterbitkan oleh penerbit HISKI, sebuah tonggak sejarah baru bagi kami,” tutur Novi.
Ia menambahkan bahwa penyusunan buku ini melibatkan banyak pihak, baik secara luring maupun daring, yang menunjukkan semangat kolaborasi akademik dan intelektual di tengah perubahan zaman. “Kerja keras seluruh tim penulis, editor, dan kontributor adalah bentuk kepahlawanan akademik di era digital,” ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. Ganjar Harimansyah, M.Pd., Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang hadir mewakili Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si.
Ganjar menyampaikan apresiasi tinggi atas terbitnya buku Humaniora Digital yang dianggap menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi bahasa, sastra, dan budaya Indonesia di ranah digital. “Kami melihat buku ini bukan sekadar publikasi ilmiah, melainkan langkah nyata memperluas ruang dialog humaniora di era teknologi,” ujarnya. Ia juga mendorong agar HISKI dapat mengembangkan seri lanjutan dengan tema yang lebih spesifik dan inovatif. “Kami siap terus berkolaborasi demi memperkaya khazanah keilmuan dan menemukan bentuk baru dalam eksplorasi digital,” tambahnya.
Sesi bincang buku menghadirkan dua pembicara utama dari disiplin ilmu berbeda. Pembicara pertama, Prof. Dr. Dedi Purwana E.S., M.Bus., Guru Besar Ekonomi dan Direktur Sekolah Pascasarjana UNJ, membawakan topik “Humaniora Digital dalam Menghadapi Tantangan Global, Perubahan Sosial, dan Ekonomi.”
Dedi menyoroti perlunya bidang humaniora beradaptasi dengan transformasi digital yang melanda berbagai sektor kehidupan. Menurutnya, humaniora digital kini telah berkembang dari sekadar alat penelitian menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan tinggi. “Di UNJ, misalnya, Program Doktor Linguistik Terapan telah mengintegrasikan elemen humaniora digital dan linguistik komputasional sebagai bagian dari pengajaran dan penelitian,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi dunia humaniora, mulai dari kesenjangan digital, isu etika dan privasi data, hingga keterbatasan akses terhadap sumber penelitian berkualitas. Untuk menjawab tantangan tersebut, Dedi mengusulkan integrasi AI dan machine learning, peningkatan kolaborasi global, serta pengembangan platform analisis digital terbuka bagi peneliti humaniora. “Kita perlu mengembangkan kurikulum berbasis digital dan memperkuat jejaring lintas disiplin, seperti yang telah dilakukan oleh universitas terkemuka dunia,” tegasnya.
Sementara itu, pembicara kedua, Dr. Martin Suryajaya, M.Hum., Wakil Direktur Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ), membahas tema “Masa Depan Humaniora Digital.” Ia menilai buku Humaniora Digital terbitan HISKI merupakan karya monumental karena menjadi buku berbahasa Indonesia pertama yang membahas topik tersebut secara menyeluruh. Martin menjelaskan bahwa buku ini terbagi ke dalam empat kelompok tema besar: literasi dan transformasi digital, ekosistem sastra dan media digital, seni tradisi dan digitalisasi, serta manuskrip dan industri kreatif digital.
Lebih jauh, ia membedakan antara Humaniora Digital dan Kajian Budaya Digital. Yang pertama berfokus pada pemanfaatan teknologi digital untuk riset, pelestarian, dan penyajian data budaya, sementara yang kedua lebih menekankan analisis kritis terhadap dampak budaya dari teknologi digital. Dari hasil analisis teks menggunakan fitur Mandala Voyant, Martin menemukan bahwa buku ini memiliki kecenderungan kuat pada kata “pembelajaran”, “budaya”, dan “tradisi”. Namun, frekuensi kata “komputasional” dan “distant reading” yang relatif kecil menunjukkan bahwa pemahaman humaniora digital di Indonesia masih cenderung berada pada ranah luas atau “kemah besar”.
Acara yang dipandu oleh Sudartomo Macaryus, M.Hum. sebagai moderator ini diikuti lebih dari 70 peserta luring dan sekitar 150 peserta daring melalui platform Zoom dan siaran langsung YouTube. Peserta berasal dari berbagai latar belakang akademik bahasa, sastra, budaya, teknologi, dan pendidikan yang menunjukkan semangat lintas disiplin dalam membangun masa depan humaniora digital di Indonesia.
Menutup acara, Prof. Novi Anoegrajekti kembali menegaskan komitmen HISKI untuk menjadikan tahun 2025 sebagai momentum kebangkitan literasi dan penerbitan ilmiah. Selain Humaniora Digital, HISKI juga menargetkan peluncuran lima buku akademik unggulan lainnya pada tahun ini.