Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) kembali menyelenggarakan forum diskusi “Tukar Tutur Sastra” edisi ke-17 pada Sabtu, 20 September 2025. Acara ini digelar secara virtual melalui Zoom dan disiarkan langsung di kanal YouTube HISKI Pusat Official dan Tribun Jatim Official. Mengangkat tema keberagaman sastra lokal, diskusi ini menghadirkan tiga pembicara dari wilayah berbeda di Indonesia, masing-masing membawakan topik yang merefleksikan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

Kegiatan berlangsung selama dua jam, dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB, dan dipandu oleh moderator Dr. Endah Imawati, M.Pd.  Dalam sambutan pembuka, Dr. Venus Khasanah, M.Pd., selaku Bendahara HISKI Pusat, menekankan bahwa Tukar Tutur Sastra bukan hanya ruang ilmiah, tetapi juga platform kolaboratif untuk mengangkat permasalahan dan potensi sastra lokal dari berbagai daerah.

Mitologi Minahasa: Relasi Gender dalam Kisah Toar-Lumimuut

Pembicara pertama, Dr. Dwianita Conny Palar, M.Hum. dari HISKI Sulawesi Utara, membedah mitologi Toar-Lumimuut dalam perspektif semiotik dan gender. Menurutnya, mitologi ini tidak sekadar narasi penciptaan, melainkan juga refleksi simbolik terhadap peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Minahasa.

Dwianita menekankan bahwa tokoh Lumimuut, perempuan leluhur Minahasa, merupakan simbol kekuatan hidup dan spiritualitas. Relasinya dengan Toar mencerminkan keseimbangan gender yang saling melengkapi.

“Perempuan dalam budaya Minahasa memiliki posisi spiritual dan sosial yang kuat, seperti terlihat dalam peran Walian dan sistem matrilineal,” Ia menyerukan perlunya membaca ulang mitologi ini sebagai sumber pendidikan karakter dan kesadaran gender untuk membongkar dominasi simbolik yang patriarkal.

Tunggu Tubang: Tradisi Semende yang Mengakar dalam Ketahanan Sosial

Ernalida, M.Hum., Ph.D. dari HISKI Sumsel, memaparkan kajian tentang tradisi Tunggu Tubang di masyarakat Semende, Sumatera Selatan. Tradisi ini menetapkan anak perempuan tertua sebagai penerima rumah pusaka dan pemegang tanggung jawab menjaga warisan keluarga

Prosesi adat seperti Nyalahkan Parbie, Ngarak Pacar, hingga Naik Pinang menjadi bagian dari ritual yang mempertegas nilai tanggung jawab, kehormatan, dan solidaritas dalam keluarga besar Semende.

Sastra Lisan Wolio: Bahasa sebagai Penjaga Adat dan Moral

Dr. Firman Alamsyah Mansyur, M.A. dari HISKI Sulawesi Tenggara, mengangkat pentingnya sastra lisan Wolio dalam melestarikan nilai adat dan norma sosial masyarakat Buton. Ia menjelaskan bahwa peribahasa Wolio sarat dengan simbol dan metafora yang mengandung ajaran moral dan etika sosial.

Contohnya, ungkapan “bhinci-bhinciki kuli” (mencubit kulit sendiri) menyampaikan nilai empati dan timbal balik, bahwa seseorang tak boleh menyakiti orang lain jika tak ingin disakiti. Simbol-simbol alam, hewan, benda, tubuh, hingga konsep sosial dalam peribahasa Wolio dipetakan ke nilai abstrak seperti keadilan, kepemimpinan, solidaritas, dan religiositas. Fungsi utamanya meliputi regulasi sosial, pendidikan moral, legitimasi kepemimpinan, hingga transmisi nilai antargenerasi.

Dr. Firman menambahkan bahwa sastra lisan menjadi sarana transmisi nilai antargenerasi, menjadikannya benteng identitas budaya masyarakat Wolio.

HISKI menunjukkan bahwa sastra lokal bukan hanya warisan masa lalu, tetapi sumber inspirasi dan kekuatan budaya yang relevan di masa kini dan mendatang. Keberagaman sastra daerah seperti yang ditampilkan dari Minahasa, Semende, dan Wolio menjadi bukti nyata bahwa Indonesia memiliki fondasi kebudayaan yang kuat, adaptif, dan inklusif.