Dalam acara tahunan Banjoewangi Tempo Doeloe, kehadiran Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) membawa warna tersendiri. Organisasi ini sukses menarik perhatian lewat aktivitas kebudayaan dan literasi yang terintegrasi dengan kekayaan tradisi Banyuwangi.
Ruang Edukasi dan Literasi yang Interaktif
Booth HISKI menyajikan berbagai bahan pustaka dan karya sastra, baik klasik maupun kontemporer. Namun lebih dari sekadar pajangan, tempat ini menjadi ruang bertemu dan berdiskusi antara penulis, akademisi, dan masyarakat umum. Suasananya akrab namun sarat makna, memperkuat posisi sastra sebagai jembatan budaya antar generasi.
Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kembali semangat kebudayaan lisan yang sarat nilai, sekaligus mengajak generasi muda untuk lebih akrab dengan warisan budaya mereka.
Kolaborasi Seni dan Tradisi Lisan
Melalui sesi pertunjukan budaya dan diskusi, HISKI menghadirkan sejumlah warisan tradisi Banyuwangi, seperti cerita rakyat Sritanjung, Tawangalun, hingga pertunjukan khas Jaranan Buto. Semua ditampilkan dengan pendekatan yang menggugah, agar tak sekadar menghibur, tetapi juga menyampaikan nilai sejarah dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Pengunjung juga dimanjakan dengan berbagai kegiatan seperti bazar, pameran seni, hingga pertunjukan malam Gandrung Show. Malam puncak dimeriahkan dengan penampilan Gandrung Terob, tarian masal yang menjadi ikon budaya lokal.
Daya Tarik Budaya dan Komitmen Pelestarian
Antusiasme pengunjung yang tinggi menunjukkan bahwa kegiatan budaya semacam ini memiliki daya tarik tersendiri. Pemerintah daerah pun memberi dukungan penuh, melihat potensi ekonomi kreatif yang tumbuh dari sektor kebudayaan.
HISKI menegaskan komitmennya untuk terus memajukan kebudayaan dengan cara yang relevan di zaman sekarang. Mereka tak hanya ingin melestarikan, tapi juga mengembangkan tradisi agar tetap hidup dan dikenali oleh generasi masa depan.