Pada Sabtu, 26 Juli 2025, Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengadakan pertemuan koordinatif antara para ilustrator, desainer grafis, dan tim penyadur dalam proyek buku sastra klasik. Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom ini berlangsung selama dua jam, dimulai pukul 10.00 WIB.
Acara dibuka oleh Sudartomo Macaryus selaku pewara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya sinergi antara penyadur yang bekerja lewat bahasa tulis dan ilustrator yang mengekspresikan gagasan secara visual nonverbal. Menurutnya, dua elemen ini saling melengkapi dalam menyampaikan nilai-nilai sastra kepada pembaca muda.
“Kolaborasi ini menjadi bentuk harmonisasi antara bahasa tulis dan gambar visual. Ini adalah langkah penting dalam mendukung perkembangan literasi, terutama untuk pembaca di jenjang PAUD dan sekolah dasar kelas rendah,” ungkap Prof. Novi.
Proyek penyaduran ini merupakan bagian dari program strategis Perpusnas yang menargetkan produksi 40 buku sastra klasik untuk jenjang PAUD, SD, dan SMP. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Suharyanto, S.Sos., M.Hum. Ia mengapresiasi komitmen HISKI dalam merealisasikan program ini dan berharap kolaborasi lintas bidang ini bisa selesai tepat waktu.
Lebih jauh, Suharyanto menyebut bahwa proyek ini berkontribusi pada tiga agenda besar Perpusnas, yakni peningkatan budaya baca dan literasi, pelestarian naskah-naskah Nusantara, serta upaya standardisasi dan akreditasi perpustakaan di seluruh Indonesia. Ia menilai penyaduran dan ilustrasi ulang sastra klasik sebagai cara efektif memperkenalkan khazanah budaya kepada generasi muda.
Paparan utama disampaikan oleh Koordinator Tim Penyadur, Dr. M. Yoesoef, M.Hum, yang menginformasikan bahwa proyek ini sudah memasuki bulan ketujuh dari total delapan bulan yang direncanakan. Ia menggarisbawahi pentingnya penyelarasan antara narasi tulisan dan visual, dan menyarankan penggunaan storyboard sebagai jembatan komunikasi antara penyadur dan ilustrator.
Ia juga menambahkan bahwa ilustrasi harus turut memuat unsur budaya yang mencerminkan latar cerita, namun tetap memberi ruang bagi kreativitas masing-masing ilustrator dalam menentukan gaya visual mereka.
Sesi diskusi terbuka kemudian digelar, di mana para peserta menyampaikan pertanyaan dan masukan demi kelancaran proses kreatif. Beberapa penyadur seperti Prof. Harun, Prof. Farida, Ibu Yeni, dan Ibu Sastri menyampaikan pandangan mereka. Dari sisi ilustrator dan desainer grafis, tanggapan diberikan oleh Mbak Happy, Mas Yulianto, Mas Farid, dan Mas Hidayat.
Diskusi ini memperjelas kebutuhan teknis dan kreatif antar tim agar buku-buku yang dihasilkan memiliki kekuatan naratif dan visual yang seimbang, mampu menyampaikan nilai-nilai klasik secara menarik dan komunikatif untuk pembaca anak-anak dan remaja. (RK)