Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bersama Perpustakaan Nasional RI menggelar Lokakarya Hasil Kemajuan Penulisan Saduran Karya Sastra Klasik pada Sabtu, 19 Juli 2025. Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB.

Penulis Penyaduran Sastra Klasik
Penulis Penyaduran Sastra Klasik

Lokakarya dibuka oleh Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., yang menegaskan bahwa agenda penyaduran karya sastra klasik ini sudah memasuki tahap akhir menjelang Agustus 2025. Ia mengajak seluruh peserta untuk menjadikan forum ini sebagai ruang diskusi, evaluasi, sekaligus penyemangat untuk menyelesaikan proyek ini bersama-sama. “Mari jadikan program saduran ini sebagai cara memperkenalkan kembali nilai-nilai sastra klasik Indonesia kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Dilanjutkan dengan sambutan Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Suharyanto, S.Sos., M.Hum., yang mewakili pihak Perpustakaan Nasional. Ia menekankan pentingnya revitalisasi sastra klasik agar tetap relevan di era kini, khususnya untuk generasi muda. Suharyanto juga mendorong agar hasil saduran tidak hanya diterbitkan dalam bentuk buku, namun dapat dialihwahanakan ke media visual seperti film animasi atau dokumenter. “Agar sastra klasik bisa diakses lebih luas, pengemasan media yang menarik perlu dipertimbangkan,” tambahnya.

Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara
Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara

Dalam proses penyaduran, menurutnya, ada beberapa hal yang perlu dijaga: isi cerita tetap mempertahankan inti nilai budaya, pilihan cerita disesuaikan dengan usia pembaca, bahasa yang digunakan harus berkualitas dan mudah dipahami, serta gaya sastra dari karya asli tetap dijaga.

Paparan mengenai perkembangan penyaduran disampaikan oleh koordinator tim penyadur, Dr. M. Yoesoef, M.Hum. Ia menjelaskan bahwa proyek ini melibatkan 20 penyadur dari HISKI dan Perpusnas yang menggarap 15 karya sastra klasik Indonesia. Karya-karya tersebut diolah menjadi bacaan yang sesuai untuk berbagai tingkat usia, mulai dari PAUD hingga SMP, namun tetap mempertahankan nilai-nilai budaya dan estetika dalam ceritanya.

Di sepanjang sesi, setiap penyadur memaparkan kemajuan kerja mereka, tantangan yang dihadapi, hingga metode yang digunakan, yang kemudian ditanggapi oleh tim pengarah dan pimpinan HISKI. Lokakarya ini menjadi ruang evaluasi sekaligus koordinasi penting untuk menjaga kualitas serta ketepatan sasaran dari proyek penyaduran sastra klasik ini.

Penulis Penyaduran Sastra Klasik

Sebagai penutup, Prof. Novi Anoegrajekti menyampaikan bahwa proyek ini bukan sekadar menulis ulang cerita lama, tetapi juga upaya membangkitkan kembali nilai-nilai luhur dalam khazanah sastra nusantara, sekaligus memperkuat literasi budaya dan identitas nasional. (RK)