Banyuwangi – sesi keempat Lokakarya Penulisan Kreatif Sastra dan Pengembangan Produk Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip yang digelar oleh HISKI Komisariat Banyuwangi, Elvin Hendratha −seniman sekaligus pelatih tari dan musik di Sanggar Joyo Karyo− mengangkat isu penting soal perlunya mentransformasikan warisan budaya ke ranah digital.

Dokumentasi LOKAKARYA di Banyuwangi
Dokumentasi LOKAKARYA di Banyuwangi

Menurut Elvin, proses digitalisasi merupakan metode dokumentasi dan langkah strategis agar tradisi yang diwariskan turun-temurun bisa tetap hadir dan dikenali di era serba cepat ini. Ia menyampaikan bahwa bentuk-bentuk budaya tak benda seperti ritus, syair, atau manuskrip kuno bisa dikemas ulang menjadi konten digital yang tak hanya informatif, tapi juga inspiratif bagi generasi muda.

“Dengan memindahkan rekaman ritual Seblang Bakungan ke format digital, mendokumentasikan suara para maestro, hingga mengarsipkan naskah lokal dalam bentuk file yang dapat diakses secara daring, kita tidak hanya melestarikan, tetapi juga membuka jalan agar karya tersebut hidup kembali,” ungkap Elvin.

Ia menyoroti potensi platform digital seperti YouTube untuk memperluas jangkauan penikmat seni. Menurutnya, kanal daring bisa menjadi sarana berbagi, promosi, hingga membuka peluang ekonomi bagi para pelaku budaya lokal.

Dokumentasi LOKAKARYA di Banyuwangi
Dokumentasi LOKAKARYA di Banyuwangi

Lebih lanjut, Elvin menyatakan bahwa dunia seni dan budaya tak bisa lagi terpaku pada pendekatan konservatif. “Perubahan zaman menuntut kita untuk berpindah panggung. Dari panggung tradisional ke panggung digital. Di situlah seni bisa tetap bernyawa di tengah masyarakat yang kini hidup dengan gawai dan internet,” jelasnya.

Sesi ini memberi pemahaman baru bagi para peserta yang datang dari latar belakang beragam, mulai dari akademisi, seniman, hingga pelajar. Pesan utamanya: teknologi bukanlah lawan dari budaya, melainkan alat yang bisa dimanfaatkan untuk menjangkau lebih banyak hati dan ruang.